Well come to the Blog Xtotal...

Xtotal.blogspot.com Inspirasi untuk melepaskan segala kelelahan sejenak Sependapat atau bertentangan tetap sahabatku Cocok atau tidak cocok tetap sahabatku Berjumpa atau tidak, tetap sahabatku Sahabat yang tanpa syarat Tak pernah saling melihat Tak pernah saling mendekat Tak mau saling mengikat Dihati kita melekat Jauh di mata dekat di hati

Jadilah diri sendiri, jangan berusaha menjadi orang lain karena kelak akan membuat dirimu menyesal...

Semakin Tegesa gesa maka akan semakin lamban

Seorang pemuda ingin menguasai ilmu pedang. Ia mendengar ada guru ilmu pedang yang sangat kesohor dan tak pernah terkalahkan. Guru itu kini menjadi pertapa dan tinggal di puncak gunung yang tinggi. Karena tekadnya begitu tinggi, ia lalu melakukan perjalanan jauh, mendaki gunung terjal tempat guru ilmu pedang itu bertapa.

Akhirnya, ia pun menemukan guru ilmu pedang yang tampak tua, dan kurus namun penuh wibawa.
“Guru, izinkan saya belajar ilmu pedang dari guru.” Pemuda itu memohon.
Sang Guru mengangguk-angguk.


Karena guru itu hanya mengangguk-angguk, pemuda itu bertanya, “Jika saya belajar dengan tekun, berapa lama waktu yang diperlukan agar bisa menguasai ilmu pedang?”
“Hemmm, barangkali sepuluh tahun.” Jawab guru itu.
“Guru, ayah saya sudah tua dan saya harus merawatnya. Saya tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Jika hamba berlatih lebih giat lagi, berapa lama saya bisa berhasil?”
“Hemmm, kalau begitu, bisa jadi dua puluh tahun.”

Anak muda ini terkejut mendengar jawaban gurunya. Keringatnya mulai bercucuran. Ia bertanya penuh keheranan, “Tadi guru menyebut sepuluh tahun, lalu dua puluh tahun. Begini saja guru, saya bersedia melakukan apa saja, menempuh jalan  sesulit apa pun, asal saya dapat menguasainya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berapa lama waktu yang saya perlukan?”
Sambil terkekeh-kekeh, guru itu menjawab, “Kalau yang ini, kamu akan memerlukan waktu tiga puluh tahun.”

Sahabat, untuk mencapai tujuan yang kita inginkan, hendaknya kita bersabar dan tidak terburu nafsu. Jangan bebani langkah-langkah kita dengan hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari tujuan tersebut. Mereka yang terburu-buru dan bernafsu ingin mendapatkan hasil secepatnya, pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa-apa.

Ingatlah pepatah yang mengatakan, “ketergesa-gesaan hanya akan membuahkan penyesalan.”

Karena setiap langkah Adalah Anugerah

Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.  Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Selalu ada saja yang dilakukannya.
Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka bisa melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.


Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?” tanya sang professor.
“Melakukan apa?”  tanya Ralph.
“Dari mana Anda belajar  untuk hidup seperti itu? desak sang professor.
“Oh,” kata Ralph, “selama perang. Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.”
Pemuda itu kemudian menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

“Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah.” Katanya. “Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.
“Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”


Sungguh, kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita   hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT!!!

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Namun, hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri. Dan, lebih sedikit lagi yang benar-benar berhasil mengubah dirinya.
Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam menjalani sisa-sisa usia yang tidak pernah kita ketahui sampai kapan batas akhirnya, saat ini, besok, ataukah tahun depan.
Sekadar menggugah kesadaran diri, bagaimanakah cara kita hidup? Apa yang telah kita lakukan untuk orang lain?

Jadilah seperti Lebah


Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”
(Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan,
“Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.”
(Al-Baqarah: 168)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.

Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

Tidak pernah merusak.

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

Bekerja keras.

Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai
(dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan

Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan

feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu

Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl.
Allahu a’lam.

Karna saya masih Bodoh, maka saya akan terus belajar

DALAM mengarungi hidup ini kita pasti menghadapi berbagai macam orang dan berbagai macam situasi. Orang yang mengosongkan dirinya dari sebutan sudah pintar atau sudah pandai, pastilah akan mampu mengambil manfaat dari orang lain atau pun berbagai situasi. Ibaratnya, segala hal akan menjadi ilmu sehingga ia benar-benar orang yang beruntung karena terus berubah lebih baik dari sebelumnya.

Kepekaan akan ilmu muncul dari hati yang bersih. Orang yang iri dan dengki, segala hal bisa menjadi masalah bukan menjadi ilmu. Orang yang minder pun demikian, ilmu seolah tertutup baginya karena sungkan dan segan. Orang yang sombong apalagi, semua hal akan dianggapnya sepele atau kurang se-level dengan dirinya sehingga tak membuatnya tergerak.


Sebenarnya apa yang sangat berbahaya bagi kita adalah terkotorinya hati sehingga pikiran menjadi redup dari ilmu. Bayangkan, segala hal yang seharusnya menjadi ilmu malah bisa sebaliknya, menjadi bencana. Orang-orang yang miskin ilmu akhirnya kerap menghadapi stres. Lalu, ketahuilah bahwa stres termasuk keadaan yang paling berpotensi membawa kematian.

Apakah hari ini hati kita telah terbuka pada ilmu. Mau mendengarkan pendapat dan penjelasan orang lain, mau membaca buku yang ditulis oleh orang lain, atau mau sejenak memperhatikan anak-anak  dan belajar dari mereka?  Jika semua fenomena itu tidak dapat menjadi ilmu, tetapi malah dianggap masalah. Kita tentu tidak mau dibuat stres oleh masalah yang kita sendiri merasa bingung untuk memecahkannya.
Sahabat, bagaimana cara membersihkan hati itu? Berlakulah selalu bagaikan gelas yang kosong. Dengan demikian, kita siap diisi dan mengisi hidup ini dengan ilmu. Namun sebaliknya, lihatlah gelas yang setengahnya berisi dan setengahnya lagi kosong (gelas yang berisi hanya setengah). Dengan demikian, kita telah mengeset pikiran untuk selalu berpikir positif. Insya Allah, hati akan tetap terjaga dari kekotoran nafsu duniawi yang salah satunya menginginkan kita menjadi orang yang merasa pintar.

Ilmu memang sudah selayaknya berbanding lurus dengan datangnya masalah agar kita selalu siap mencari solusinya. Bagaimana kalau masalah ternyata jauh lebih banyak daripada ilmu yang kita miliki? Maka, pada saat itulah masalah menjadi tidak terkendali dan melahirkan masalah baru yang lebih rumit serta pelik.
Rekan sahabat sekalian hendaknya kita tidak berleha-leha dalam menuntut ilmu, apalagi menyepelekannya. Orang sukses yang tidak tamat SD (Sekolah Dasar) pun, pastilah ia menggunakan ilmu. Jadi, jangan melihat orang yang gagal sekolah dan menjadi sukses sebagai orang yang mengesampingkan ilmu.

“Ah, dia saja tidak sekolah bisa sukses. Lalu, ngapain sekolah?” Bukan sekolah atau tidaknya yang penting, tetapi bagaimana ikhtiar mencari ilmu itu dilakukan dengan atau tanpa melalui sekolah.
Bagian dari sukses seseorang adalah kemampuan dia keluar dari masalah dan mengatasinya. Setiap masalah pasti ada kiat atau ilmu untuk memecahkannya yang biasa kita sebut solusi. Jadi, tidak mungkin tanpa ilmu, sebuah masalah dapat diatasi dan tidak mungkin tanpa ilmu, sebuah sukses akan diraih.

Karena masalah terus datang silih berganti, mustahil seseorang dapat bertahan tanpa terus belajar. Apa yang membuat kita mundur dalam suatu urusan karena kita mulai alergi terhadap proses belajar. Belajar dianggap membuang waktu dan tidak efektif. Akibatnya, masalah cukup diselesaikan saja oleh orang lain yang dibayar untuk itu.

Orang lain yang mendapat uang plus juga mendapat ilmu sehingga untung dua kali. Adapun kita yang sudah membayar, hanya mendapat satu keuntungan bahwa masalah kita diselesaikan orang lain tanpa kita tahu bagaimana cara menyelesaikannya.

Orang yang berhenti belajar berarti sudah selesai dengan urusan memperbaiki dirinya. Padahal, ujian dari Allah tidak akan pernah selesai selama seorang hamba masih menghirup napas di dunia ini. Oleh karena itu, tanpa belajar terus-menerus, seseorang tidak akan mungkin mampu mengatasi semua masalah hidupnya.
Jadi, marilah kita tetap terus belajar, karena saya masih kurang ilmu  dibanding Anda, maka saya akan terus belajar, dan belajar, jangan malu belajar, walau belajar dengan anak-anak, karena ilmu berada di mana-mana, ilmu tidak hanya kita dapat di sekolah, atau pendidikan formal. semoga kita akan tetap terus belajar, belajar untuk hidup, belajar menjadi sukses, dan belajar untuk terus bisa belajar

Pemikiran Lebih Mahal Daripada Harta

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apa pun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang Anda pikirkan dalam otak Anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Ungkapan ini saya peroleh dari blog seorang teman. Saya setuju dengan ungkapan ini. Pikiran atau ide merupakan sesuatu yang mahal nilainya. Coba bayangkan! Selama ini kita hanya biasa menggunakan komputer. Kita biasa menggunakan mobil. Kita terbiasa menggunakan berbagai teknologi mutakhir.
Pernahkah terpikir, bagaimana kalau kemampuan kita meningkat? Bagaimana jika kita tidak saja pandai menggunakan, pandai mengoperasikan komputer, mobil atau HP? Bagaimana  kalau kita juga pandai membuat, membuat berbagai kreasi?

Perkembangan komputer merupakan contoh yang paling mudah. Dari tahun-tahun, komputer terus mengalami  kemajuan. Ada Windows 95, Windows 98, XP dan seterusnya. Belum lagi produk anti  virus komputer yang terus berkembang.
HP juga tidak jauh berbeda. Dari waktu ke waktu terus mengalami kemajuan.
Bagaimana keadaan orang-orang yang pandai membuat komputer? Dia terus menerus menangguk keuntungan  atau kekayaan. Sementara kita hanya sebagai market mereka saja. Apa kelebihan mereka dibandingkan dengan kita? Mereka memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam membuat). Sedangkan kita hanya memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam menggunakan serta mengoperasikan saja).
Coba bayangkan! Bila semua orang yang mengetahui cara pembuatan komputer telah tutup usia dan tidak ada re-generasi atau transfer ilmu, apa yang terjadi? Ilmu itu menjadi sesuatu yang amat mahal.
Betapa berharganya, betapa tingginya nilai Thomas Alva Edison yang telah menemukan lampu pijar,  Alexander Graham Bell yang telah menemukan telepon.

Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Orang yang mengetahui dan mengamalkan shalat sunnah fajar dan shalat sunnah isyraq lebih bernilai dari orang yang tidak mengetahuinya.
Coba bayangkan! Ada 3 anak sekolah yang sedang menghadapi ujian sekolah dalam bentuk multiple choice.  Anak pertama termasuk anak yang malas belajar, sehingga ketika ujian dia menyontek temannya. Sebelumnya dia memilih jawaban A, namun begitu melihat jawaban temannya B, dia langsung mengubahnya. Anak yang kedua, juga termasuk anak yang kurang perhatian dengan pelajaran. Sehingga di saat menjawab pertanyaan ujian, dia menghitung kancing dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas.

Sedangkan anak yang ketiga merupakan anak yang pandai. Bila di rumah, pelajaran yang diperoleh di sekolah, dia kembali mengulangnya. Sementara di sekolah, dia memperhatikan pelajaran yang sedang disampaikan oleh gurunya. Tidak heran, bila ujian dia tidak ragu-ragu dalam menjawab soal multiple choice. Dia tidak perlu menghitung kancing. Dia tidak perlu menyontek. Andaikan dia mengetahui bahwa jawabannya berbeda dengan jawaban teman, dia tidak akan ragu pada  jawabannya sendiri. Bila di dalam pilihan jawaban yang tersedia tidak terdapat jawaban yang benar, maka dia akan bertanya kepada gurunya. Dia akan bertanya, “Mana jawaban yang benar, Bu atau Pak?”

Coba bandingkan! Anak ketiga dengan anak yang pertama dan kedua. Anak yang pertama menjadi anak yang peragu. Anak yang kedua menjadi anak yang suka berspekulasi, tanpa mengetahui adanya kepastian. Sedangkan anak yang ketiga, melangkah dengan pasti. Melangkah tanpa
ragu dan tanpa berspekulasi lagi.

Helm Unik dan Terlaris Sepanjang Masa

Inilah Helm yang menghiasi dunia unik menarik dan terlaris sepanjang masa.....

Lucu Gan... silahkan di simak... ca ke dot.... 















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail