Well come to the Blog Xtotal...

Xtotal.blogspot.com Inspirasi untuk melepaskan segala kelelahan sejenak Sependapat atau bertentangan tetap sahabatku Cocok atau tidak cocok tetap sahabatku Berjumpa atau tidak, tetap sahabatku Sahabat yang tanpa syarat Tak pernah saling melihat Tak pernah saling mendekat Tak mau saling mengikat Dihati kita melekat Jauh di mata dekat di hati

Jadilah diri sendiri, jangan berusaha menjadi orang lain karena kelak akan membuat dirimu menyesal...

Tampilkan postingan dengan label Titik Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Titik Renungan. Tampilkan semua postingan

Keajaiban dari sebuah Ketekunan

Aku adalah seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Selama 30 tahun aku mengajar piano. Selama itu pula aku menemukan bahwa setiap anak mempunyai kemampuan musik yang berbeda. Aku tidak pernah merasa telah berbuat sesuatu yang besar, walaupun aku telah mengajar beberapa murid yang berbakat. Meski demikian, aku ingin bercerita tentang seorang muridku yang paling berkesan, namanya Robby berumur 11 tahun saat ibunya memasukkannya untuk mengikuti les pertama kalinya. Sebenarnya, aku lebih suka kalau muridku mulai belajar pada usia yang lebih muda. Dan, aku menjelaskan hal tersebut kepada Robby. Tetapi, Robby mengatakan bahwa ibunya ingin sekali mendengar ia bermain piano. Jadi, aku menerimanya sebagai murid.

Lalu, Robby memulai kursus pianonya. Sejak awal, aku berpikir bahwa ia tidak ada harapan. Robby mencoba, tetapi ia tidak mempunyai perasaan akan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Namun, ia dengan serius mempelajari tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang aku wajibkan untuk dipelajari oleh semua murid.

Selama beberapa bulan, ia terus mencoba dan mendengarnya dengan ngilu, tetapi tetap memberinya semangat. Setiap akhir pelajaran mingguan, dia selalu berkata, “Ibuku pasti akan mendengarkan aku bermain piano pada suatu saat nanti.” Tetapi, rasanya sia-sia saja. Ia memang tidak mempunyai bakat.

Aku sering melihat ibunya dari jauh, saat menurunkan dan menjemputnya. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tetapi tidak pernah turun. Pada suatu ketika, Robby tidak datang les lagi, dan aku pernah berpikir untuk menghubunginya. Tetapi, dalam hati aku berpikir bahwa karena ketidakmampuannya, mungkin ia mengambil kursus bidang lain. Aku juga senang karena ia tidak datang lagi. Ia menjadi iklan yang buruk bagi tempat kursusku!

Beberapa minggu sesudahnya, aku mengirimkan undangan kepada semua murid, termasuk Robby, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Hal yang membuatku kaget adalah ketika Robby meminta agar ia dapat ikut bermain dalam pertunjukan tersebut. Awalnya, aku menolak dan mengatakan bahwa pertunjukan itu hanya untuk murid yang ada sekarang. Karena ia telah keluar, tentu ia tidak dapat ikut serta. Robby mengatakan bahwa ibunya sakit sehingga ia tidak bisa mengantarnya ke tempat kursus, tetapi dia tetap terus berlatih.

“Bu Honford, tolonglah… aku ingin ikut bermain!” Ia meminta dengan memelas. Aku tidak tahu hal apa yang membuatku akhirnya mengizinkannya bermain pada pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada suara yang berkata dalam hatiku bahwa ia akan baik-baik saja.
Tibalah malam saat pertunjukan itu berlangsung. Aula itu dipenuhi oleh orang tua, teman, dan relasi. Aku menaruh Robby pada urutan terakhir untuk bermain sebelum giliranku maju ke depan, untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Aku yakin bahwa Robby akan membuat kesalahan dan aku akan menutupinya dengan permainanku.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya baik. Lalu, tibalah giliran Robby untuk naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya berantakan. “Kenapa dia tidak berpakaian seperti murid lainnya?” pikirku, “Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya, setidaknya untuk malam ini?” Robby menarik kursi piano dan mulai bermain.
Aku terkejut saat ia menyatakan akan memainkan Mozart Concerto #21 pada C Major.
Jarinya lincah di atas tuts, bahkan menari dengan gesit. Ia berpindah dari pianissimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. Accord gantung yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Aku tidak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan oleh seorang seusia dia dan sebagus itu!
Setelah enam setengah menit, Robby mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua orang terpaku di sana, dengan tepuk tangan yang meriah. Dengan berurai air mata, aku naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. “Aku belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau dapat melakukannya?”

Melalui pengeras suara Robby menjawab, “Ibu Honford… ingatkah saat kukatakan bahwa ibuku sakit? Ya, sebenarnya ia sakit kanker dan ia telah meninggal dunia pagi ini. Dan sebenarnya… ia tuli sejak lahir. Jadi, hari inilah ia pertama kali mendengar aku bermain piano. Dan, aku ingin bermain secara khusus.”
Tiada seorang pun yang matanya kering malam itu. Ketika orang-orang dari panti sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, aku menyadari bahwa meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidupku jauh lebih berarti karena telah mengambil Robby sebagai muridku.
Tidak, aku tidak pernah menjadi penolong, tetapi malam itu aku menjadi orang yang ditolong oleh Robby. Dialah guru dan akulah muridnya.

Karena Robby-lah yang mengajarkan arti ketekunan, kasih, percaya pada diri sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan kepada seseorang yang dianggap buruk.
Peristiwa ini semakin berarti bagiku, saat aku mendengar kabar bahwa Robby terbunuh dalam pengeboman yang tidak masuk akal yang terjadi di Alfred P. Murah Federal Building di Oklahoma pada bulan April 1995. Saat itu dilaporkan bahwa Robby sedang bermain piano.
Oleh sebab itu, percayalah bahwa ketekunan, kasih, dan rasa percaya diri akan memiliki suatu arti. Ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

***

Begitulah, kadang kala kita begitu mudah menganggap remeh orang lain. Kita kadang tidak pernah mau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuktikan kemampuannya atas sesuatu. Kita lebih sering mengukur dan menimbang kemampuannya melalui penglihatan fisik. Penilaian yang diambil dalam waktu singkat melalui perbincangan singkat.
Terkadang pula, kita merasa takut mereka akan mengecewakan kita. Bukan hanya terhadap orang lain kita berbuat demikian, tetapi juga terhadap keluarga, pasangan hidup, bahkan anak kita sendiri.
Tak jarang, kita begitu takut menghadapi kekecewaan dan begitu takut untuk dipermalukan di hadapan orang banyak, sehingga kita memilih untuk menurunkan standar pengharapan (lowering expectation) kita akan sesuatu atau atas seseorang.

Lebih baik mencegah daripada harus memperbaiki. Apalagi kalau kita sudah mengetahui terlebih dahulu konsekuensinya. Tetapi sesungguhnya, jika kita membuka hati, berani mengambil risiko untuk menghadapi segala sesuatu, percayalah, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Menaruh pengharapan penuh akan hal yang indah yang dapat kita raih dan dapat kita ciptakan. Karena, segala sesuatunya adalah datang dari dalam diri kita sendiri.

Ketulusan adalah sesuatu hal yang indah, yang mendatangkan kebaikan, yang menyempurnakan segala sesuatunya. Jagalah hati, supaya diri kita selalu tulus dan membuka hati, menerima segala sesuatu dengan apa adanya, tanpa embel-embel atau pamrih. Tuhan-lah yang akan membalaskan segala sesuatunya kepada kita. Lakukanlah yang terbaik, dan biarkanlah Tuhan yang menyempurnakannya. Percayalah, apa saja yang kita lakukan, pasti berhasil.

Belajar Dari Kehidupan

Ada seorang bapak bernama Pak Broto yang hidupnya lumayan susah. Dia mempunyai dua orang anak, Eko dab Eki. Eko adalah seorang penjual Minuman Jahe Hangat, sedangkan anaknya Eki seorang penjual Es Kelapa Muda. Kedua Anak Pak Broto ini sudah menikah semua. Pada suatu Hari Pak Broto ini sedang berpikir tentang kedua anaknya sehingga beliau ini menderita penyakit hipertensi yang bisa dibilang cukup parah. Sudah dibawa ke puskesmas dan rumah sakit tapi tidak sembuh-sembuh. Anaknya si Eko dan Eki juga ikut bingung dan susah. Apa sih yang menyebabkan penyakit dari Pak Broto ini?
Pada suatu siang, Pak Broto sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Ia memikirkan mengapa siang ini begitu panas sekali sehingga membuat ia berkeringat. Setelah itu ia berpikir lagi.


“Hmm…Gimana yah nasib anak saya Eko kalo hari panas begini. Padahal anaknya lagi sakit dan butuh obat. Tapi, kalo panas terik kayak gini, siapa yang mau beli Jahe hangatnya yah ?” Geram Pak Broto
Ia terus berpikir siang itu. Ia ingin sekali membantu anaknya, Eko yang anaknya sakit. Tapi, ia sendiri untuk makan saja sulit. Apalagi mau membantu membelikan obat untuk cucunya tadi. Karena kecapekan dalam berpikir, akhirnya Pak Broto tertidur di kursi terasnya. Tiba-tiba saja Pak Broto ini dibangunkan oleh bunyi hujan deras.

Kretek…kretek…kretek…
Akhirnya, dia masuk rumah. Ketika sore hari itu hujan turun dengan derasnya, lagi-lagi Pak Broto berpikir nasib anaknya yang lain (Yah, beginilah orang tua yang sayang kepada kita). Setelah Anaknya Eko yang dipikirkan kali ini iya ganti memikirkan anaknya yang Eki.
Ia berpikir bagaimana nasib anaknya yang bernama Eki, “Mana laku dagangan es kelapa mudanya, kalo hujan deras dan cuaca dingin seperti ini.”

Dia makin punya pikiran yang tidak karu-karuan. Dia memikirkan anaknya Eko yang tadi sudah tidak laris, kali ini kok Eki ga laku juga dagangannya. “Wah gimana nasib anak-anakku ini. Sementara aku, untuk membiayai hidupku sendiri saja tak mampu. Aku ini bapak macam apa.” gerutu Pak Broto.
Akhirnya, Pak Broto jatuh sakit, dia terkena hipertensi. Anaknya si Eko dan Eki tadi yang mendengar bapaknya sakit, segera membawa ke rumah sakit. Namun, ternyata tidak ada hasilnya juga. Salah satu tetangga Pak Broto ada yang jadi dokter. Akhirnya, ia mau memberikan pengobatan gratis pada Pak Broto ini.

Dokter itu bertanya pada Pak Broto, “Pak, sebenarnya bapak ini kok bisa sakit kayak gini, kenapa to Pak? Kan Bapak udah berobat ke mana-mana, tapi kok belum sembuh juga. Kayaknya, sakit bapak ini ada yang aneh.” Tanya Pak dokter.

“Saya juga gak tahu, Dokter,” kata Pak Broto.
“Kalo menurut saya, Bapak sakit karena ada yang mengganjal di pikiran.” Jawab dokter.
”Iya, benar, Dokter,” kata Pak Broto.
”Memangnya apa yang mengganjal pikiran Bapak?” tanya dokter.
“Begini Pak dokter, saya ini kasihan sama anak-anak saya. Saya memikirkan anak saya si Eko saat di panas terik. Saya berpikir apa dagangan si Eko ini akan laku kalo panas terik begini. Karena itu, saya jadi sedih. Belum lagi kalau hujan datang dan cuaca dingin merasuk, saya ganti memikirkan anak saya si Eki, yang sedang jualan Es Kelapa Muda. Mana laku dagangan anak saya. Sementara, saya sebagai bapak tidak bisa bertindak apa-apa.” Kata Pak Broto.

Lalu, dokter itu tersenyum. “Pak, coba mulai sekarang, Bapak balik pikiran Bapak. Jikalau sekarang saat panas terik, bapak pikirkan betapa larisnya dagangan anak Bapak si Eki. Selain itu, saat cuaca dingin dan hujan tiba, pikiran Bapak harus berbalik kepada si Eko, yang sedang laris-larisnya jualan minuman jahe hangat.” Kata Pak dokter.
Lalu Pak Broto itu mengangguk-angguk kepalanya.
Pak Broto pun mengikuti anjuran dokter tadi. Akhirnya, Pak Broto pun sembuh dari sakit hipertensinya, dan hidupnya pun berubah sejak saat itu.

***

Apa sih yang dapat kita petik dari cerita ini? Kita harus senantiasa mensyukuri apa yang kita dapat saat ini, namun banyak sekali orang-orang yang lebih mendramatisir suatu musibah. Padahal, mereka pada waktu yang sama juga mendapatkan sebuah berkah atau kebaikan. Tapi kita sebagai sering kali melupakan sebuah keberuntungan dan lebih mendramatisir suatu musibah yang datang kepada kita. Padahal jika kita mau mensyukuri apa yang telah kita dapat dan sabar serta tawakkal saat musibah datang, Hidup kita lebih tenang.

By Bayu Mukti

Satu Jam saja

Suatu hari, seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa selama hidup kita?”
Dengan sedikit keheranan, ayahnya memandang anak kecil itu dan berkata, “Tidak, Nak.”
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
“Oh Ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, Nak.”
“Ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam 1 jam saja?”
Akhirnya, ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar bisa, Nak. Hanya karena rahmat Tuhan-lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar.”

Anak ini tersenyum lega. “Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, Ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar….”
Seketika itu sang ayah memeluk putri kecilnya yang telah memberinya pencerahan dengan pertanyaan dan pernyataan lugunya.

***
Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini. Dengan latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa. Apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah menjadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny.

Hiduplah 1 jam TANPA kemarahan, tanpa hati yang jahat, tanpa pikiran negatif, tanpa menjelekkan orang, tanpa keserakahan, tanpa pemborosan, tanpa kesombongan, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan. Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya. Hiduplah 1 jam dengan kasih, dengan sukacita, dengan damai sejahtera, dengan kesabaran, dengan kelemahlembutan, dengan kemurahan hati, dengan kerendahan hati, dengan penguasaan diri. Dan, ulangilah untuk 1 jam berikutnya. Jalanilah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, dengan menjalaninya dari waktu ke waktu, dari 1 jam ke jam berikutnya.

Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Cermin Tua yang terlupakan

Pada suatu ketika, sepasang suami istri, sebutlah Afandi, mengadakan garage sale untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.

Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.

Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun, karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan.

Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Mereka pun mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.
Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.
Seorang lelaki menghampiri Nyonya Afandi. “Berapa harga cermin itu?” katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi.

Nyonya Afandi tercengang. “Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?” katanya.
“Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus,” jawab pria itu. Nyonya Afandi tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga.

Setelah berpikir sejenak, Nyonya Afandi berkata, “Hmm… Anda bisa membeli cermin itu dengan Rp10.000.”
Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang sepuluh ribuan dan memberikannya kepada Nyonya Afandi.
“Terima kasih,” kata Nyonya Afandi. “Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?”
“Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang,” jawab si pembeli.
Nyonya Afandi memberikan izinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Nyonya Afandi. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya.
Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

“Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!” Sorak pria itu dengan gembira. Nyonya Afandi tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

***

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang, kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.

Sama halnya dengan Tuan dan Nyonya Afandi yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal, di balik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal, di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita.

Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Nyonya Afandi menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak. Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.
Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang baru. Mari kita membuat perbedaan!

Semakin Tegesa gesa maka akan semakin lamban

Seorang pemuda ingin menguasai ilmu pedang. Ia mendengar ada guru ilmu pedang yang sangat kesohor dan tak pernah terkalahkan. Guru itu kini menjadi pertapa dan tinggal di puncak gunung yang tinggi. Karena tekadnya begitu tinggi, ia lalu melakukan perjalanan jauh, mendaki gunung terjal tempat guru ilmu pedang itu bertapa.

Akhirnya, ia pun menemukan guru ilmu pedang yang tampak tua, dan kurus namun penuh wibawa.
“Guru, izinkan saya belajar ilmu pedang dari guru.” Pemuda itu memohon.
Sang Guru mengangguk-angguk.


Karena guru itu hanya mengangguk-angguk, pemuda itu bertanya, “Jika saya belajar dengan tekun, berapa lama waktu yang diperlukan agar bisa menguasai ilmu pedang?”
“Hemmm, barangkali sepuluh tahun.” Jawab guru itu.
“Guru, ayah saya sudah tua dan saya harus merawatnya. Saya tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Jika hamba berlatih lebih giat lagi, berapa lama saya bisa berhasil?”
“Hemmm, kalau begitu, bisa jadi dua puluh tahun.”

Anak muda ini terkejut mendengar jawaban gurunya. Keringatnya mulai bercucuran. Ia bertanya penuh keheranan, “Tadi guru menyebut sepuluh tahun, lalu dua puluh tahun. Begini saja guru, saya bersedia melakukan apa saja, menempuh jalan  sesulit apa pun, asal saya dapat menguasainya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berapa lama waktu yang saya perlukan?”
Sambil terkekeh-kekeh, guru itu menjawab, “Kalau yang ini, kamu akan memerlukan waktu tiga puluh tahun.”

Sahabat, untuk mencapai tujuan yang kita inginkan, hendaknya kita bersabar dan tidak terburu nafsu. Jangan bebani langkah-langkah kita dengan hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari tujuan tersebut. Mereka yang terburu-buru dan bernafsu ingin mendapatkan hasil secepatnya, pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa-apa.

Ingatlah pepatah yang mengatakan, “ketergesa-gesaan hanya akan membuahkan penyesalan.”

Karena setiap langkah Adalah Anugerah

Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.  Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Selalu ada saja yang dilakukannya.
Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka bisa melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.


Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?” tanya sang professor.
“Melakukan apa?”  tanya Ralph.
“Dari mana Anda belajar  untuk hidup seperti itu? desak sang professor.
“Oh,” kata Ralph, “selama perang. Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.”
Pemuda itu kemudian menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

“Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah.” Katanya. “Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.
“Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”


Sungguh, kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita   hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT!!!

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Namun, hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri. Dan, lebih sedikit lagi yang benar-benar berhasil mengubah dirinya.
Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam menjalani sisa-sisa usia yang tidak pernah kita ketahui sampai kapan batas akhirnya, saat ini, besok, ataukah tahun depan.
Sekadar menggugah kesadaran diri, bagaimanakah cara kita hidup? Apa yang telah kita lakukan untuk orang lain?

Jadilah seperti Lebah


Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”
(Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan,
“Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.”
(Al-Baqarah: 168)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.

Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

Tidak pernah merusak.

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

Bekerja keras.

Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai
(dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan

Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan

feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu

Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl.
Allahu a’lam.

Karna saya masih Bodoh, maka saya akan terus belajar

DALAM mengarungi hidup ini kita pasti menghadapi berbagai macam orang dan berbagai macam situasi. Orang yang mengosongkan dirinya dari sebutan sudah pintar atau sudah pandai, pastilah akan mampu mengambil manfaat dari orang lain atau pun berbagai situasi. Ibaratnya, segala hal akan menjadi ilmu sehingga ia benar-benar orang yang beruntung karena terus berubah lebih baik dari sebelumnya.

Kepekaan akan ilmu muncul dari hati yang bersih. Orang yang iri dan dengki, segala hal bisa menjadi masalah bukan menjadi ilmu. Orang yang minder pun demikian, ilmu seolah tertutup baginya karena sungkan dan segan. Orang yang sombong apalagi, semua hal akan dianggapnya sepele atau kurang se-level dengan dirinya sehingga tak membuatnya tergerak.


Sebenarnya apa yang sangat berbahaya bagi kita adalah terkotorinya hati sehingga pikiran menjadi redup dari ilmu. Bayangkan, segala hal yang seharusnya menjadi ilmu malah bisa sebaliknya, menjadi bencana. Orang-orang yang miskin ilmu akhirnya kerap menghadapi stres. Lalu, ketahuilah bahwa stres termasuk keadaan yang paling berpotensi membawa kematian.

Apakah hari ini hati kita telah terbuka pada ilmu. Mau mendengarkan pendapat dan penjelasan orang lain, mau membaca buku yang ditulis oleh orang lain, atau mau sejenak memperhatikan anak-anak  dan belajar dari mereka?  Jika semua fenomena itu tidak dapat menjadi ilmu, tetapi malah dianggap masalah. Kita tentu tidak mau dibuat stres oleh masalah yang kita sendiri merasa bingung untuk memecahkannya.
Sahabat, bagaimana cara membersihkan hati itu? Berlakulah selalu bagaikan gelas yang kosong. Dengan demikian, kita siap diisi dan mengisi hidup ini dengan ilmu. Namun sebaliknya, lihatlah gelas yang setengahnya berisi dan setengahnya lagi kosong (gelas yang berisi hanya setengah). Dengan demikian, kita telah mengeset pikiran untuk selalu berpikir positif. Insya Allah, hati akan tetap terjaga dari kekotoran nafsu duniawi yang salah satunya menginginkan kita menjadi orang yang merasa pintar.

Ilmu memang sudah selayaknya berbanding lurus dengan datangnya masalah agar kita selalu siap mencari solusinya. Bagaimana kalau masalah ternyata jauh lebih banyak daripada ilmu yang kita miliki? Maka, pada saat itulah masalah menjadi tidak terkendali dan melahirkan masalah baru yang lebih rumit serta pelik.
Rekan sahabat sekalian hendaknya kita tidak berleha-leha dalam menuntut ilmu, apalagi menyepelekannya. Orang sukses yang tidak tamat SD (Sekolah Dasar) pun, pastilah ia menggunakan ilmu. Jadi, jangan melihat orang yang gagal sekolah dan menjadi sukses sebagai orang yang mengesampingkan ilmu.

“Ah, dia saja tidak sekolah bisa sukses. Lalu, ngapain sekolah?” Bukan sekolah atau tidaknya yang penting, tetapi bagaimana ikhtiar mencari ilmu itu dilakukan dengan atau tanpa melalui sekolah.
Bagian dari sukses seseorang adalah kemampuan dia keluar dari masalah dan mengatasinya. Setiap masalah pasti ada kiat atau ilmu untuk memecahkannya yang biasa kita sebut solusi. Jadi, tidak mungkin tanpa ilmu, sebuah masalah dapat diatasi dan tidak mungkin tanpa ilmu, sebuah sukses akan diraih.

Karena masalah terus datang silih berganti, mustahil seseorang dapat bertahan tanpa terus belajar. Apa yang membuat kita mundur dalam suatu urusan karena kita mulai alergi terhadap proses belajar. Belajar dianggap membuang waktu dan tidak efektif. Akibatnya, masalah cukup diselesaikan saja oleh orang lain yang dibayar untuk itu.

Orang lain yang mendapat uang plus juga mendapat ilmu sehingga untung dua kali. Adapun kita yang sudah membayar, hanya mendapat satu keuntungan bahwa masalah kita diselesaikan orang lain tanpa kita tahu bagaimana cara menyelesaikannya.

Orang yang berhenti belajar berarti sudah selesai dengan urusan memperbaiki dirinya. Padahal, ujian dari Allah tidak akan pernah selesai selama seorang hamba masih menghirup napas di dunia ini. Oleh karena itu, tanpa belajar terus-menerus, seseorang tidak akan mungkin mampu mengatasi semua masalah hidupnya.
Jadi, marilah kita tetap terus belajar, karena saya masih kurang ilmu  dibanding Anda, maka saya akan terus belajar, dan belajar, jangan malu belajar, walau belajar dengan anak-anak, karena ilmu berada di mana-mana, ilmu tidak hanya kita dapat di sekolah, atau pendidikan formal. semoga kita akan tetap terus belajar, belajar untuk hidup, belajar menjadi sukses, dan belajar untuk terus bisa belajar

Pemikiran Lebih Mahal Daripada Harta

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apa pun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang Anda pikirkan dalam otak Anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Ungkapan ini saya peroleh dari blog seorang teman. Saya setuju dengan ungkapan ini. Pikiran atau ide merupakan sesuatu yang mahal nilainya. Coba bayangkan! Selama ini kita hanya biasa menggunakan komputer. Kita biasa menggunakan mobil. Kita terbiasa menggunakan berbagai teknologi mutakhir.
Pernahkah terpikir, bagaimana kalau kemampuan kita meningkat? Bagaimana jika kita tidak saja pandai menggunakan, pandai mengoperasikan komputer, mobil atau HP? Bagaimana  kalau kita juga pandai membuat, membuat berbagai kreasi?

Perkembangan komputer merupakan contoh yang paling mudah. Dari tahun-tahun, komputer terus mengalami  kemajuan. Ada Windows 95, Windows 98, XP dan seterusnya. Belum lagi produk anti  virus komputer yang terus berkembang.
HP juga tidak jauh berbeda. Dari waktu ke waktu terus mengalami kemajuan.
Bagaimana keadaan orang-orang yang pandai membuat komputer? Dia terus menerus menangguk keuntungan  atau kekayaan. Sementara kita hanya sebagai market mereka saja. Apa kelebihan mereka dibandingkan dengan kita? Mereka memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam membuat). Sedangkan kita hanya memiliki pemikiran, ide dan pengetahuan (dalam menggunakan serta mengoperasikan saja).
Coba bayangkan! Bila semua orang yang mengetahui cara pembuatan komputer telah tutup usia dan tidak ada re-generasi atau transfer ilmu, apa yang terjadi? Ilmu itu menjadi sesuatu yang amat mahal.
Betapa berharganya, betapa tingginya nilai Thomas Alva Edison yang telah menemukan lampu pijar,  Alexander Graham Bell yang telah menemukan telepon.

Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Orang yang mengetahui dan mengamalkan shalat sunnah fajar dan shalat sunnah isyraq lebih bernilai dari orang yang tidak mengetahuinya.
Coba bayangkan! Ada 3 anak sekolah yang sedang menghadapi ujian sekolah dalam bentuk multiple choice.  Anak pertama termasuk anak yang malas belajar, sehingga ketika ujian dia menyontek temannya. Sebelumnya dia memilih jawaban A, namun begitu melihat jawaban temannya B, dia langsung mengubahnya. Anak yang kedua, juga termasuk anak yang kurang perhatian dengan pelajaran. Sehingga di saat menjawab pertanyaan ujian, dia menghitung kancing dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas.

Sedangkan anak yang ketiga merupakan anak yang pandai. Bila di rumah, pelajaran yang diperoleh di sekolah, dia kembali mengulangnya. Sementara di sekolah, dia memperhatikan pelajaran yang sedang disampaikan oleh gurunya. Tidak heran, bila ujian dia tidak ragu-ragu dalam menjawab soal multiple choice. Dia tidak perlu menghitung kancing. Dia tidak perlu menyontek. Andaikan dia mengetahui bahwa jawabannya berbeda dengan jawaban teman, dia tidak akan ragu pada  jawabannya sendiri. Bila di dalam pilihan jawaban yang tersedia tidak terdapat jawaban yang benar, maka dia akan bertanya kepada gurunya. Dia akan bertanya, “Mana jawaban yang benar, Bu atau Pak?”

Coba bandingkan! Anak ketiga dengan anak yang pertama dan kedua. Anak yang pertama menjadi anak yang peragu. Anak yang kedua menjadi anak yang suka berspekulasi, tanpa mengetahui adanya kepastian. Sedangkan anak yang ketiga, melangkah dengan pasti. Melangkah tanpa
ragu dan tanpa berspekulasi lagi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail